Subscribe RSS

Archive for 2010

Grup FB Tanjung Papuma Coast Jember Mencapai 5 Ribu Orang Sep 16

Jika anda penggemar jejaring sosial di dunia maya, tentu tidak asing lagi dengan sebuah situs pertemanan “facebook” yang kini keanggotaannya sudah ratusan juta orang dan melintas batas negara yang ada di seluruh dunia.  Situs yang berfungsi menjalin persahabatan dan pertemanan ini, tidak hanya berfungsi menghimpun teman, sahabat, kerabat, rekan kerja yang telah lama tidak bertemu dan tersebar di seluruh dunia, tetapi juga bermanfaat menyatukan kesamaan paham, hobi dan kegemaran, profesi, dan lain-lain dalam satu wadah yang disebut “grup”.  Memanfaatkan fasilitas media teknologi yang disediakan facebook, para pemerhati, peminat dan para penggemar tanjung papuma juga menyatukan diri dalam wadah Grup Facebook yang diberi nama “Tanjung Papuma Coast Jember (Papuma lovers”.)

Adalah Agung Puji Santosa, si pendiri dan penggagas grup ini.  Ia seorang pria berkelahiran asli jember (wuluhan) yang berprofesi sebagai pengajar di SMP dan SMA, karena cintanya terhadap papuma, terdorong untuk membuat grup facebook ini untuk menghimpun seluruh pemerhati papuma untuk kelestarian dan pengembangan kawasan wisata papuma yang lebih baik.

Grup facebook ini pertama dibentuk pada tahun 2009 dan kini selama hampir satu tahun, anggotanya telah mencapai 5000 orang lebih facebooker dari berbagai golongan, jenis kelamin, usia, profesi dan dari berbagai kota di Indonesia.

Banyak  manfaat yang dapat diperoleh bagi para anggotanya dan juga untuk pengelola wana wisata papuma.  Karena melalui grup ini, berbagai informasi tentang papuma disampaikan oleh para pengurus grup.  Juga berbagai pertanyaan, saran, kritik dan diskusi konstruktif terbangun di grup ini.  Beberapa kali event telah digagas dan diselenggarakan oleh mas Agung ini, dengan difasilitasi pengelola papuma, diantaranya adalah acara bertema pesta di papuma (valentine day – pebruari 2010) dan temu darat  anggota grup pada bulan april yang lalu.

Bagi anda penggemar papuma yang peduli dan penikmat alam papuma, silakan bergabung dengan grup facebook tanjung papuma coast ini, agar tidak ketinggalan informasi dan bergabung dengan kawan-kawan lain yang memiliki minat dan kegemaran yang sama berwisata di papuma.

Bagi anda yang berminat bergabung dengan grup facebook tanjung papuma, silakan klik di sini

Wisata Malam Papuma Sep 15

Sejak bulan Maret 2010 yang lalu, wana wisata papuma telah berbenah diri.  Upaya ini sebagai salah satu wujud mengakomodir dan memfasilitasi keinginan sebagian wisatawan papuma yang ingin suasana  lain berwisata di papuma pada malam hari.  Pengelola wana wisata tanjung papuma telah berbenah diri untuk menyiapkan papuma sebagai obyek wisata malam hari.

Salah satu upaya pembenahan yang telah dilakukan diantaranya pemasangan lampu penerangan pada lebih dari 100 titik-titik yang membutuhkan penerangan.  Titik-titik tersebut tersebar mulai dari jalan masuk di dalam kawasan wana wisata dan tersebar di antara pepohonan di area pohon.  Selain itu juga dipersiapkan personil petugas pengamanan yang memadai untuk pengamanan wisatawan dari gangguan keamanan manusia maupun binatang.  Pemilihan titik-titik pemasangan lampu tersebut dengan tetap mempertahankan suasana malam papuma agar tetap unik, alami dan khas bagi penikmat alam bebas.

Wisata malam papuma menawarkan ; keindahan alam malam hari papuma, suasana hening dan khidmat yang ingin dirasakan oleh sebagain besar penikmatnya, suara-suara hewan liar malam (rusa, kera, ayam hutan, dll), jalan-jalan di pasir putih malam hari diiringi deburan ombak dan angin laut malam hari, bersantai di sepanjang pasir putih pantai papuma sambil menikmati alunan gemuruh ombak menikmati kuliner malam papuma, camping di alam bebas papuma.

Besar harapan pengelola wana wisata papuma, bahwa wisata malam di papuma dapat menawarkan suasana yang berbeda dari suasana wisata papuma seperti biasanya.  (dietweha)

Papuma Sebagai Obyek Riset Study Sep 08

Sebagai obyek wisata  alam yang mengandung banyak keunikan flora dan fauna, wana wisata tanjung papuma ternyata juga telah banyak mengundang minat para peneliti untuk melakukan riset study tentang obyek wisata tersebut.  Tidak hanya sebatas pada bidang keilmuwan rumpun biologi dan atau lingkungan hidup, (ekowisata) tetapi juga telah menarik studi dari aspek manajemen, kepariwisataan, ekonomi dan finansial sampai dengan rumpun ilmu pengembangan kewilayahan.

Berbagai hasil penelitian tentang papuma telah banyak dipublikasikan di dunia maya.  Pada kolom ini, kami akan menyajikan berbagai tautan (link) yang terkait dengan publikasi hasil-hasil penelitian atau studi tentang papuma.  Harapan kami, bagi anda peminat papuma yang ingin mengembangkan penelitian di papuma dapat memiliki literatur yang memadai dan terhimpun menjadi satu, sebagai bahan penelitian anda, baik sebagai penelitian awal maupun penelitian lanjutan dari studi-studi yang telah pernah dilaksanakan.

Hasil-hasil penelitian yang ada kami pilah menjadi beberapa aspek penelitian diantaranya :

  • Studi Ekologi, Lingkungan dan Ekowisata
  • Studi Ekonomi & Sosial
  • Studi Manajemen dan Perencanaan
  • Studi Kepariwisataan
  • Studi  Pranata Sosial & Kemasyarakatan

Selamat berstudi di papuma.  Semoga bermanfaat.

Biodiversity di Habitat Alam Papuma Sep 07

Selain menampilkan sajian alam pantai, pegunungan, gua, serta obyek wisata religi/adat, Wana Wisata Tanjung Papuma juga menyimpan kekayaan flora dan fauna yang terancam kepunahan dan perlu dilindungi. Status kawasan hutannya yang Hutan Lindung, membuat Perum Perhutani KPH Jember sebagai pengelola Wana Wisata mendapatkan tugas dan tanggungjawab besar untuk selalu menjaga dan melestarikan hutan, alam dan segala mahluk hidup di dalamnya.

Ada beberapa kekayaan flora dan fauna yang endemik dan khas di Tanjung Papuma yang bisa anda saksikan dari dekat kehidupannya di alam bebas.  Untuk kekayaan flora antara lain :  formasi hutan bakau, formasi baringtonia, tumbuhan “glagah”, formasi tanaman perdu pantai, dll.

Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai pauma dapat dibedakan menjadi 2, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia.

  1. Formasi Pres-Caprae; Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens (babakoan).
  2. Formasi Baringtonia; Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (waru laut), Terminalia catapa (ketapang).

Agak masuk ke daratan terdapat formasi hutan hujan tropis, dengan jenis-jenis vegetasi yang tumbuh di lokasi wana wisata terdiri dari beberapa jenis meliputi tingkatan pohon dan tumbuhan bawah. Adapun komposisi jenis tersebut, antara lain : waru (Hibiscus similis), godang/lo (Ficus verachata), ilat-ilat (Ficus callosa), dondong (Spandias pinnata), rengas (Gluta-rangkasi), timongo (Klienhovia), srintil kutil (Peltata), segawe (Adenanthera mecrospema) dan serut (Vitex hitrophylla).

Sedangkan untuk koleksi satwa darat terdapat : kera ekor panjang (Macaca fascicularis ), lutung jawa “budeng” (Trachypithecus auratus), rusa hutan (cervus timorensis), banteng, biawak (Varanus albigularis), ayam hutan, kijang dll.  Koleksi satwa laut diantaranya adalah :  gurita laut, berbagai spesies ikan laut, terumbu karang, dll.

Category: Ragam Hayati  | Leave a Comment
Biawak Papuma : Si Pemakan Ikan Yang Pemalu Sep 07

Salah satu daya tarik wisata tanjung papuma adalah keberadaan satwa biawak yang dibiarkan hidup liar di alam bebas.  Selain ukurannya yang hampir menyerupai komodo, biawak papuma tergolong jenis yang unik karena besarnya bisa mencapai 2,5 meter.  Padahal biawak biasa, ukuran tubuhnya hanya sekitar 1 – 1,5 meter.

Jika anda berkesempatan berkunjung ke papuma, dan menyempatkan diri mengunjungi warung makan ikan bakar pak Yit yang terletak didekat pelataran parkir papuma, deretan paling utara, diantara kerindangan pepohonan dan semak belukar perdu tedapat lebih kurang 10 ekor biawak, yang sehari-harinya hidup dan berkelliaran bebas di sekitar warung tersebut.

Biawak tersebut keluar dari rerimbunan hutan, apabila ada sisa-sisa ikan dari makanan hidangan warung di sekitarnya yang dilemparkan.  Memang, makanan utama biawak adalah ikan, baik berupa ikan segar maupun ikan sisa makan para pengunjung warung.  Jika ada makanan yang dilemparkan ke mereka, maka serta merta sambil “malu-malu” mereka keluar dan memakan ikan-ikan tersebut.

Biawak adalah sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae). Biawak dalam bahasa lain disebut sebagai bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik (Jawa), berekai (Madura), dan monitor lizard atau goanna (Inggris).

Biawak banyak macamnya. Yang terbesar dan terkenal ialah biawak komodo (Varanus komodoensis), yang panjangnya dapat melebihi 3 m. Biawak ini, karena besarnya, dapat memburu rusa, babi hutan dan anak kerbau. Bahkan ada kasus-kasus di mana biawak komodo menyerang manusia, meskipun jarang. Biawak ini hanya menyebar terbatas di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara, seperti di p. Komodo, p. Padar, p. Rinca dan di ujung barat p. Flores.

Biawak di papuma ini – dan yang kerap ditemui di desa-desa dan perkotaan di Indonesia barat – kebanyakan adalah biawak air dari jenis Varanus salvator. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit, meskipun ada pula yang dapat mencapai 2,5 m.  Dan di papuma, ukurannya termasuk cukup besar, karena mencapai 2,5 meter.

Habitat Biawak.

Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai.

Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cerurut. Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu atau buaya.

Biawak berkembang biak dengan bertelur. Sebelum mengawini betinanya, biawak jantan biasanya berkelahi lebih dulu untuk memperlihatkan penguasaannya. Pertarungan biawak ini unik dan menarik, karena dilakukan sambil ‘berdiri’. Kedua biawak itu lalu saling pukul atau saling tolak sambil berdiri pada kaki belakangnya, sehingga tampak seperti menari bersama.

Telur-telur biawak disimpan di pasir atau lumpur di tepian sungai, bercampur dengan daun-daun busuk dan ranting. Panas dari sinar matahari dan proses pembusukan serasah akan menghangatkan telur, sehingga menetas.

Dengan kemampuan regenerasinya yang rendah, jumlah biawak juga sangat terbatas.  Oleh karenanya, keberadaannya di papuma sangat dilestarikan dan dilindungi dan dibiarkan alami tanpa ada campur tangan pemeliharaan oleh pengelola.  Upaya untuk menangkarkan biawak ini agar jumlahnya bisa lebih banyak, belum pernah dilakukan.

Jika anda penasaran dengan biawak papuma : si pemalu pemakan ikan ini, silakan berkunjung ke papuma dan sempatkan melihatnya di seputaran warung makan di pelataran parkir papuma.  Anda bisa melihat dari dekat – bahkan sangat dekat – sambil memberi makan ikan segar atau sisa ikan bakar yang tidak habis anda santap di warung-warung makan papuma.

Meskipun satwa ini liar dan pemalu, biawak-biawak papuma relatif jinak dan tidak pernah membahayakan pengunjung papuma.

Category: Ragam Hayati  | Leave a Comment
Si “Budeng” : Lutung Jawa, Satwa Langka Tapi Lestari di Papuma Sep 03

Jember, 1 Agustus 2010.  Sungguh tiada diduga, ternyata selama ini Wana Wisata Tanjung Papuma memiliki koleksi satwa langka yang sudah mulai punah keberadaannya di pulau Jawa.  Dialah si Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) atau dalam istilah setempat disebut “budeng”.

Satwa liar endemik yang setiap harinya hidup liar di alam bebas dan bercengkerama di alam papuma yang asri, diperkirakan hanya tersisa ratusan ekor saja di seluruh habitatnya di pulau Jawa.  Dan di Papuma, jumlahnya masih cukup banyak.  Diperkirakan di papuma terdapat sekitar 100 ekor lebih.  Keunikan dan kelangkaan inilah yang sempat menarik minat stasiun televisi swasta Trans7 untuk meliput keberadaan Lutung Jawa di papuma ini untuk acara “JEJAK PETUALANG”.

Lutung Budeng atau dalam nama ilmiahnya Trachypithecus auratus adalah sejenis lutung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Lutung Budeng memiliki rambut tubuh berwarna hitam. Dan seperti jenis lutung lainnya, lutung ini memiliki ekor yang panjang, sekitar 87 cm.

Jantan dan betina biasanya berwarna hitam, namun betina memiliki warna putih kekuningan di sekitar kelaminnya. Lutung muda memiliki rambut tubuh berwarna oranye. Ada dua subspesies dari Lutung Budeng, yang dibedakan dari daerah sebarannya. Subspesies utama, T. a. auratus memiliki ras yang langka, di mana lutung dewasa memiliki warna rambut seperti lutung muda yang berwarna oranye, namun warnanya lebih gelap sedikit dengan ujung kuning.

Endemik Indonesia, Lutung Budeng tersebar dan ditemukan di dalam hutan hujan tropis pulau Jawa, Bali, Kalimantan dan Sumatra.

Lutung Budeng adalah hewan diurnal, yang lebih aktif pada waktu siang hari di atas pepohonan. Makanan pokoknya terdiri dari tumbuh-tumbuhan. Memakan dedaunan, buah-buahan dan bunga. Spesies ini juga memakan larva serangga.

Lutung Budeng hidup berkelompok, yang dalam satu kelompoknya terdiri dari sekitar tujuh ekor lutung, termasuk satu atau dua ekor lutung jantan dewasa. Lutung betina biasanya hanya mempunyai satu anak setiap melahirkan dan saling bantu membesarkan anak-anak lutung. Namun lutung betina juga bersifat sangat agresif terhadap lutung betina dari kelompok lain.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta populasi lutung yang terus menyusut, Lutung Budeng dievaluasikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List.

Di Wana Wisata Tanjung Papuma, satwa yang selalu berada di pepohonan dan tidak pernah turun ke tanah ini, sangat dilindungi dan dijaga dari berbagai macam gangguan, baik dari para pemburu maupun predator lain.  Populasinya setiap tahun selalu bertambah banyak yang ditandai dengan semakin banyak dijumpai anak-anak lutung.  Habitatnya pun dijaga dan dilestarikan.  Selain untuk tujuan konservasi, keberadaan lutung jawa ini juga dijadikan sebagai salah satu daya tarik unggulan wisata di papuma. (dietweha)