Subscribe RSS

Archive for the Category "Ragam Hayati"

Berburu Gurita Papuma Aug 19

Salah satu keunikan papuma selain keindahan panorama alam pantai, gunung dan hutan, juga terdapat hewan laut khas yang sering dimanfaatkan sebagai hidangan kuliner papuma.  Dia lah si gurita (octopus), hewan laut lunak berkaki delapan, yang hidup di perairan dangkal di antara batuan karang.

Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.

Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Tidak seperti hewan Cephalopoda lainnya, sebagian besar gurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil.

Tubuh yang sangat fleksibel memungkinkan gurita untuk menyelipkan diri pada celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari ikan pemangsa seperti belut laut Moray. Gurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cangkang dalam sehingga kemampuan untuk menyelip ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang.

Gurita mempunyai masa hidup yang relatif singkat dan beberapa spesies hanya hidup selama 6 bulan. Spesies yang lebih besar seperti Gurita raksasa Pasifik Utara yang beratnya bisa mencapai 40 kilogram bisa hidup sampai 5 tahun di bawah kondisi lingkungan yang sesuai. Reproduksi merupakan salah satu sebab kematian, gurita jantan hanya bisa hidup beberapa bulan setelah kawin dan gurita betina mati mati tidak lama setelah bertelur. Kematian disebabkan kelalaian gurita untuk makan selama sekitar satu bulan sewaktu menjaga telur-telur yang belum menetas.

Selubung bagian perut tubuh gurita disebut mantel yang terbuat dari otot dan terlihat seperti kantung. Gurita memiliki tiga buah jantung yang terdiri dari dua buah jantung untuk memompa darah ke dua buah insang dan sebuah jantung untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Darah gurita mengandung protein Hemosianin yang kaya dengan tembaga untuk mengangkut oksigen. Dibandingkan dengan Hemoglobin yang kaya dengan zat besi, Hemosianin kurang efisien dalam mengangkut oksigen. Hemosianin larut dalam plasma dan tidak diikat oleh sel darah merah sehingga darah gurita berwarna biru pucat. Gurita bernafas dengan menyedot air ke dalam rongga mantel melalui kedua buah insang dan disemburkan keluar melalui tabung siphon. Gurita memiliki insang dengan pembagian yang sangat halus, berasal dari pertumbuhan tubuh bagian luar atau bagian dalam yang mengalami vaskulerisasi.

PERTAHANAN DIRI

Gurita biasanya memiliki tiga mekanisme pertahanan diri: kantong tinta, kamuflase dan memutuskan lengan.

Gurita berwarna abu-abu pucat atau putih, tapi warna kulit bisa diubah sesuai warna dan pola lingkungan sekitar dengan maksud melakukan kamuflase (penyamaran). Pada kulit gurita terdapat kromatofora berupa lapisan kantung-kantung pewarna yang lentur dan bisa mengubah warna, opasitas dan refleksitas jaringan epidermis. Otot-otot di sekeliling kromatofora bisa membuat kantung-kantung pewarna menjadi kelihatan atau hilang. Kromatofora berisi pigmen berwarna kuning, oranye, merah, coklat, atau hitam. Sebagian besar spesies gurita memiliki 3 warna dari seluruh pilihan warna kromatofora yang ada, walaupun ada juga spesies yang memiliki 2 atau 4 warna. Sel-sel lain yang bisa berubah warna adalah sel iridophore dan sel leucophore (warna putih).[7] Kemampuan berganti warna digunakan gurita untuk berkomunikasi atau memperingatkan gurita lain. Gurita cincin biru berubah warna menjadi kuning cerah dengan bulatan-bulatan berwarna biru jika merasa terancam sekaligus memperingatkan musuh bahwa dirinya sangat beracun.[8]

Beberapa spesies gurita dapat memutuskan lengannya sendiri (ototomi) mirip cicak dan beberapa spesies kadal yang memutuskan ekor sewaktu melarikan diri. Lengan gurita yang sedang merangkak juga berfungsi sebagai pengalih perhatian bagi calon pemangsa dan berguna pada saat kawin.

Beberapa spesies gurita seperti gurita mimic memiliki sistem pertahanan ke-4 berupa kemampuan meniru bentuk hewan laut berbahaya seperti lionfish dan belut berkat tubuh yang lentur dipadukan dengan kemampuan berganti warna. Gurita mimic juga pernah didapati mengganti tekstur mantel agar kamuflase menjadi lebih sempurna. Mantel gurita mimic bisa terlihat runcing-runcing seperti rumput laut atau benjol-benjol seperti tekstur batu karang.

BERBURU GURITA

Melihat bentuk fisik, jenis makanan dan sitaf pembelaan diri gurita, maka untuk berburu gurita harus mengenal betul sifat-sifat tersebut.  Para nelayan di papuma terbiasa berburu gurita dengan cara menyelam dan menggunakan umpan berupa kepiting tiruan sebagai umpan gurita.    Setelah umpan dimakan, selanjutnya gurita diolah menjadi kuliner gurita bakar papuma.

Tahukah anda bagaimana cara berburu gurita di papuma?  Kami mendapatkan video yang sangat menarik hasil tayangan MNCTV yang beberapa waktu yang lalu melalui acara “MATA PANCING”.

Silakan anda saksikan kisah berburu gurita papuma dengan cara  klik tautan gambar di bawah ini.  Selamat menyaksikan, dan jika anda berkunjung ke papuma. jangan lewatkan kuliner gurita bakar yang banyak disediakan warung-warung makan tradisional di area wisata Tanjung Papuma.  Rugi jika anda sudah sampai di papuma tetapi tidak merasakan kenikmatan khas papuma. (dietweha)

Lumba-Lumba Yang Malang Terdampar di Papuma Aug 05

Meski kejadiannya sudah agak kadaluarsa, namun kisah terdamparnya lumba-lumba di pantai Tanjung Papuma ini cukup relevan dan menarik untuk diberitakan.  Cukup menarik karena kejadiannya sangat langka – karena memang belum pernah terjadi ada ikan besar seperti lumba-lumba – terdampar di Papuma.  Relevan karena kejadian ini menunjukkan bahwa di sekitar kawasan perairan Tanjung Papuma berarti juga terdapat habitat lumba-lumba yang perlu diteliti lebih lanjut keberadaannya.  Siapa tau bisa juga menjadi salah satu obyek wisata bahari di Papuma.

Although it had happened a bit outdated, but the story terdamparnya dolphins on the beach of Tanjung Papuma is quite relevant and interesting to be preached. Quite interesting because it happens very rare – because it has never happened there is a big fish like dolphins – washed up on Papuma. Relevant because this incident shows that the waters around Cape Papuma means there are also the habitat of dolphins that need to be further investigated its existence. Who knows it could also be one of maritime tourism in Papuma.

Kejadiannya dikisahkan oleh Mas Riswandha (salah satu anggota grup FB Papuma Lovers) yang mengirimkan kisahnya ke grup FB tersebut.  Saat itu 29 Mei 2009, mas Riswandha dkk kebetulan sedang berwisata ke Papuma.   Kala itu para nelayan mendapati seekor lumba-lumba tersangkut jala jaring penangkap ikan. Akibat kelelahan dalam upaya melepaskan diri dari jala jaring ikan tersebut, lumba-lumba tersebut akhirnya kelelahan dan terdampar di pantai pasir putih papuma.

It happened told by Mas Riswandha (one of the member of group Papuma Lovers) that send the story to the group FB. It was May 29, 2009, Mas et al Riswandha happened to be traveling to Papuma. At that time the fishermen found a dolphin nets snagged fishing nets. As a result of fatigue in an effort to escape from the nets of fishing nets, the dolphins were eventually exhausted and stranded on a white sand beach Papuma.

Melihat hal tersebut, para nelayan setempat telah berusaha mengembalikan lumba-lumba tersebut kembali ke laut.  Namun usaha tersebut sia-sia karena lumba-luma sudah kelelahan dan akhirnya mati.  Lumba-lumba mati itu akhirnya dikuburkan di bawah pohon kelapa.  Pada saat penguburan, mas Riswandha dkk turut menguburkan lumba-lumba malang tersebut. (dietweha)

Seeing this, the local fishermen have been trying to get the dolphins back to sea. But the effort is futile because the dolphin-luma was exhausted and eventually die. Dead dolphins were eventually buried under a palm tree. At the time of burial, mas Riswandha helped bury the poor dolphins. (dietweha)

Pesona Keindahan Bawah Laut Tanjung Papuma Aug 04

Benar-benar alami dan menawan terumbu karang di Tanjung Papuma.  Begitulah kesan yang terlontar dari ucapan anggota tim selam UGM yang beberapa waktu lalu – sekitar bulan Juni – mengadakan penyelaman di wilayah pantai papuma.

Memang, pada bulan Juni 2011 yang lalu, wana wisata Tanjung Papuma bekerjasama dengan komunitas penyelam Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, mengadakan survei potensi bawah laut Papuma.  Kegiatan yang diselenggarakan selama 3 hari tersebut dimaksudkan untuk mengetahui potensi terumbu karang, keragamaman dan kekayaan hayat biota laut, sifat angin, gelombang/arus laut, salinitas dan topografi kedalaman dasar pantai dan lain-lain.  Hasil survei ini diharapkan dapat diperoleh gambaran situasi dan kondisi perairan bawah laut papuma yang dapat dikembangkan untuk obyek wisata selam (diving) dan snoorkling (selam permukaan) yang aman bagi pengunjung papuma.

Berdasarkan hasil survei penyelaman selama 3 hari tersebut diperoleh hasil bahwa ekosistem papuma masih sangat terjaga dan alami.  hal ditandai dengan kemunculan ikan-ikan langka yang berfungsi sebagai indikator keutuhan ekosistem dan habitat laut papuma.

Hasil dari survei ini akan segera kami publikasi sebagai bahan panduan katalog obyek bawah laut Papuma bagi para peminat/penghobi selam maupun sekedar untuk snoorkling yang ingin melakukan wisata selam di Tanjung Papuma.  Namun karena ternyata diketahui bahwa secara fisik perairan laut selatan tergolong berbahaya bagi penyelaman, maka rekomendasi sementara untuk melakukan penyelaman di Tanjung Papuma haruslah penyelam yang profesional (drift diving skill), mengingat arus gelombang cukup deras dan banyak putaran arus bawah (dietweha).

Kera Ekor Panjang : Primata Penghuni Papuma Yang Bersahabat Oct 03

Selain lutung jawa (budeng), di papuma juga terdapat jenis primata lain yang juga menjadi salah satu daya tarik obyek wisata papuma.  Primata ini hidup dan berkembangbiak dengan lestari. Jenis primata yang satu ini lebih banyak jumlahnya dan memiliki sebaran habitat yang sangat beragam dan jumlahnya / populasi tidak terglong langka seperti budeng.

Primata ini mampu hidup di segala habitat dan ekosistem serta aktifitasnya tidak hanya melulu berada di atas pohon tetapi juga turun ke tanah dan beratifitas di atas tanah.  Karena kemampuan adaptasinya yang tinggi serta kemampuan berkembangbak yang cepat dan kelimpahan sumber makanan, jumlah primata ini di papuma juga lebih banyak dari budeng.  Diperkirakan jumlahnya sekarang ini sudah mencapai 100 ekor lebih.

Dialah si Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah monyet asli Asia Tenggara namun sekarang tersebar di berbagai tempat di Asia. Monyet ini sangat adaptif dan termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia.

Secara fisiologis, tubuhnya mempunyai panjang tubuh 38-76 cm, panjang ekor 61 cm dengan berat badan sampai 6 kg. Tubuhnya tampak kokoh yang tertutup mantel rambut berwarna coklat kemerah-merahan di bagian bawah nampak lebih muda dan muka menonjol dengan wama keputih-putihan. Wama mantel rambut kera ini yang hidup di pedalaman hutan lebih gelap dari pada yang hidup dipantai. Anak kera ekor panjang mantel rambut berwama hitam dengan rambut muka dan telinga nampak cemerlang, warna rambut inl akan berubah setelah berumur 1 tahun.

Anggota badan dapat difungsikan sebagal tangan dan sebagai kaki. Jari-jari kaki dan tangan masing-masing berjumlah 5 biji dan sangat mudah digerakkan. Pergerakan satwa ini jika berada di pohon menggunakan jari- jarinya, namun jika di atas tanah akan menggunakan telapak kaki dan tangannya ke tanah. Macaca juga dapat memanjat sambil melompat sejauh 5 meter. Jenis monyet ini juga dapat berenang dengan baik.

Kera ekor panjang hidup berkelompok, jumlah kelompok biasanya terdiri dari 10-20 ekor di hutan bakau, 20-30 ekor di hutan primer, 30-50 ekor di hutan sekunder, dengan komposisi komplit ada induk jantan dan betina beserta anak-anaknya. Besar kecilnya kelompok ditentukan oleh ada tidaknya pemangsa dan sumber pakan di alam. Pergerakan dilakukan untuk mendapatkan pakan di dalam melangsungkan hidupnya. Luas daerah jelajah 50 hingga 100 ha untuk satu kelompok. Luas daerah jelajah sangat erat hubungannya dengan sumber pakan.

Monyet ini memiliki alat kelamin menonjol, yang jantan kantong zakar besar. Masa kawin pada setiap siklus, kawinnya beramai-ramai, seekor pejantan kawin dengan beberapa ekor betina dan seekor betina kawin dengan beberapa ekor pejantan. Masa bunting selama 116 hari.

Monyet ekor panjang mampu hidup dalam berbagai kondisi dari hutan bakau di pantai, dataran rendah sampai pegunungan dengan keting- gian 2000 mdpl. Monyet ini dapat ditemukan di mana-mana, menjadi hama bagi penduduk, merusak padi, jagung dan tanaman buah-buahan.

Keben : Pohon Peneduh Yang Buahnya Bisa Untuk Racun Ikan Oct 02

Jika anda melihat dan menemukan buah yang berserakan jatuh dari sebuah pohon yang banyak terdapat di papuma seperti terlihat pada gambar di samping, maka itulah buah dari pohon keben.  Di beberapa daerah pohon ini disebut dengan nama songgom, putat laut, atau butun (Sunda)

Keben atau Barringtonia asiatica adalah pohon yang memiliki morfologi tumbuh tegak dengan batang tampak bekas tempelan daun yang besar. Daun membulat telur sungsang atau lonjong-membulat telur sungsang. Perbungaan berbentuk tandan dan letaknya diujung, jarang di ketiak, kelopak bunga hijau seperti tabung panjang, daun mahkota putih, menjorong, benang sari memerah di ujung, putik memerah di ujung. Buahnya membundar telur, menirus ke ujung, menetragonal tajam ke pangkal yang mengggubang, bila muda berwarna hijau setelah tua menjadi coklat.

B. asiatica banyak tumbuh di papuma di sekitar cafepapuma dan area camping ground.  Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi, sehingga hanya terbuka satu malam saja. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. Barringtonia asiatica merupakan jenis litoral yang hampir ekslusif, pada beberapa daerah pohonnya dapat tumbuh jauh ke daratan pada bukit atau jurang berkapur, biasanya tumbuh pada pantai berpasir atau dataran koral-pasir, di sepanjang pantai atau rawa mangrove pada ketinggian 0-350 m di atas permukaan laut.

Di Indonesia, Filipina dan Indo-Cina, buah atau biji dipakai untuk racun ikan, sedangkan di Kepulauan Bismarck, biji segar diparut dan dibubuhkan langsung pada pegal-pegal. Biji yang kering dihaluskan, dicampur air dan diminum untuk batuk, flu, sakit dan radang tenggorokkan. Dibubuhkan secara eksternal pada luka atau limpa yang bengkak setelah terserang malaria. Di Australia, suku Aborigin menggunakannya untuk racun ikan dan kadang-kadang meredakan sakit kepala. Di Indo-Cina buah yang muda dimakan sebagai sayur setelah dimasak lama. Ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalanan utama sepanjang laut.

Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. Meskipun demikian, B.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging, lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T.catappa. F. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya.

Category: Ragam Hayati  | Leave a Comment
Gebang : Si Palem Berdaun Kipas Nan Menawan Oct 02

Jangan salah dengan jenis tanaman yang satu ini. Pohon yang tinggi menjulang dengan bentuk batang yang hampir silindris dan berdaun kipas ini, sekilas mirip palem atau siwalan atau aren bahkan kelapa.  Itulah Gebang atau Corypha utan, sejenis palem berdaun kipas yang akan anda saksikan banyak tumbuh dan mengelompok di papuma.

Gebang adalah nama sejenis palma tinggi besar dari daerah dataran rendah. Pohon ini juga dikenal dengan nama-nama lain seperti gabang (Dayak Ngaju), gawang (Timor), pucuk (Btw.), pocok (Md.), ibus (Bat., Sas.), silar (Minh.) dan lain-lain. Nama ilmiahnya adalah Corypha utan.  Keberadaan pohon ini di papuma sangat dominan dan mencolok karena pohonnya yang tinggi besar, menyerupai kelapa, dan berdaun kipas.  Bagi yang tidak terlalu paham dengan jenis-jenis tumbuhan, banyak yang mengira / menyamakan pohon ini dengan pohon siwalan atau enau. Padahal habitat antara gebang dan siwalan jelas sangat berbeda.

Sebagai salah satu penyusun formasi vegetasi Barringtonia, pohon palma yang besar ini berbatang tunggal, tinggi sekitar 15-20 m. Daun-daun besar berbentuk kipas, bulat menjari dengan diameter 2-3,5 m, terkumpul di ujung batang; bertangkai panjang hingga 7 m, lebar, beralur dalam serta berduri tempel di tepinya. Bekas-bekas pelepah daun pada batang membentuk pola spiral.

Gebang hanya berbunga dan berbuah sekali, yakni di akhir masa hidupnya. Karangan bunga muncul di ujung batang (terminal), sesudah semua daunnya mati, berupa malai tinggi besar 3-5 m, dengan ratusan ribu kuntum bunga kuning kehijauan yang berbau harum. Buah bentuk bola bertangkai pendek, hijau, 2-3 cm diameternya.

Daun gebang, terutama yang muda, diolah menjadi berbagai bahan anyaman yang bagus; untuk bahan membuat tikar, topi, kantong, karung, tali, jala dan pakaian tradisional. Helai-helai pita dari olahan janur gebang ini pada masa lalu ramai diperdagangkan terutama di Sulawesi Selatan; dikenal beberapa macamnya seperti agel, papas, dan akan.

Sejenis serat tumbuhan yang cukup baik dapat pula dihasilkan dari tangkai daunnya, setelah dibelah-belah, direndam dan diolah lebih lanjut. Serat ini dapat dipintal menjadi tali atau, di Filipina, dianyam menjadi topi.

Umbutnya dapat dimakan. Demikian pula dengan sagu yang diperoleh dari empulur batangnya, meski biasanya sagu ini untuk makanan hewan saja dan baru dimakan orang di masa paceklik. Di Ayotupas, sagu gebang dibuat menjadi semacam kue lempengan yang dibakar dan disebut putak; biasanya dimakan bersama pisang.

Batang gebang cukup keras, terutama bagian luarnya yang mengayu, dan biasa digunakan sebagai bahan bangunan. Potongan batang yang utuh dan dibuang bagian tengahnya (empulur) biasa digunakan untuk membuat bedug.

Beberapa bagian pohon gebang memiliki khasiat obat. Akarnya digunakan untuk menyembuhkan diare ringan dan berulang. Air dari pelepahnya digunakan sebagai anti racun. Semacam getah kemerahan (blendok, Jw.) dari pucuknya digunakan untuk mengobati luka, batuk dan disentri (sumber : wikipedia)