Subscribe RSS

Archive for the Category "Ragam Hayati"

Pandan, Penghijau dan Pelindung Pantai Papuma Sep 18

Jika anda telah menapakkan kaki di pasir putih papuma dan berjalan menyusuri sepanjang garis pantai pasir putih di papuma, maka pasti anda pernah menyaksikan jajaran tumbuhan berdaun mirip sirip dengan akarnya yang muncul di permukaan tanah menyerupai batang pokoknya.  Jika anda beruntung dan mendapati pohon-pohon tersebut berbuah, maka anda akan saksikan buah pohon tersebut yang mirip durian tapi berlapis-lapis berwarna hijau – ketika muda – dan berwarna kuning jingga – ketika tua.  Betapa Indah dan colourfull sekali buah tersebut dan mengundang selera untuk memakannya.  Tapi jangan salah, meski warnanya sangat menggiurkan dan mengundang selera, namun buah ini tidak dapat dimakan.

Tahukah anda, tanaman apakah yang menjadi salah satu pembentuk biodiversity di papuma ini?  Ya, ……itulah dia tanaman pandan, si penghijau dan pelindung pantai papuma.

Pandan merupakan segolongan tumbuhan monokotil dari genus Pandanus. Sebagian besar anggotanya merupakan tumbuh di pantai-pantai daerah tropika. Anggota tumbuhan ini dicirikan dengan daun yang memanjang (seperti daun palem atau rumput), seringkali tepinya bergerigi. Akarnya besar dan memiliki akar tunjang yang menopang tumbuhan ini. Buah pandan tersusun dalam karangan berbentuk membulat, seperti buah durian. Ukuran tumbuhan ini bervariasi, mulai dari 50cm hingga 5 meter, bahkan di Papua banyak pandan hingga ketinggian 15 meter. Daunnya selalu hijau (hijau abadi, evergreen), sehingga beberapa di antaranya dijadikan tanaman hias.

Pandan pantai (Pandanus tectorius) merupakan salah satu jenis vegetasi yang khas pantai di papuma.  Tanaman pandan menyebar di sepanjang pantai yang tidak tergenang oleh pasang surut air laut. Ciri umum habitat pandan  adalah berada di ekosistem yang tidak terpengaruh iklim, tanah kering (tanah pasir, berbatu karang, lempung), tanah rendah pantai, pohon kadang-kadang ditumbuhi epyphit dan dapat dijumpai terutama di pantai selatan P. Jawa, pantai barat daya Sumatera dan pantai Sulawesi.

Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai papuma dapat dibedakan menjadi 2, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia.

  1. Formasi Pres-Caprae; Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens (babakoan).
  2. Formasi Baringtonia; Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (waru laut), Terminalia catapa (ketapang).
Category: Ragam Hayati  | 3 Comments
Biodiversity di Habitat Alam Papuma Sep 07

Selain menampilkan sajian alam pantai, pegunungan, gua, serta obyek wisata religi/adat, Wana Wisata Tanjung Papuma juga menyimpan kekayaan flora dan fauna yang terancam kepunahan dan perlu dilindungi. Status kawasan hutannya yang Hutan Lindung, membuat Perum Perhutani KPH Jember sebagai pengelola Wana Wisata mendapatkan tugas dan tanggungjawab besar untuk selalu menjaga dan melestarikan hutan, alam dan segala mahluk hidup di dalamnya.

Ada beberapa kekayaan flora dan fauna yang endemik dan khas di Tanjung Papuma yang bisa anda saksikan dari dekat kehidupannya di alam bebas.  Untuk kekayaan flora antara lain :  formasi hutan bakau, formasi baringtonia, tumbuhan “glagah”, formasi tanaman perdu pantai, dll.

Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai pauma dapat dibedakan menjadi 2, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia.

  1. Formasi Pres-Caprae; Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens (babakoan).
  2. Formasi Baringtonia; Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (waru laut), Terminalia catapa (ketapang).

Agak masuk ke daratan terdapat formasi hutan hujan tropis, dengan jenis-jenis vegetasi yang tumbuh di lokasi wana wisata terdiri dari beberapa jenis meliputi tingkatan pohon dan tumbuhan bawah. Adapun komposisi jenis tersebut, antara lain : waru (Hibiscus similis), godang/lo (Ficus verachata), ilat-ilat (Ficus callosa), dondong (Spandias pinnata), rengas (Gluta-rangkasi), timongo (Klienhovia), srintil kutil (Peltata), segawe (Adenanthera mecrospema) dan serut (Vitex hitrophylla).

Sedangkan untuk koleksi satwa darat terdapat : kera ekor panjang (Macaca fascicularis ), lutung jawa “budeng” (Trachypithecus auratus), rusa hutan (cervus timorensis), banteng, biawak (Varanus albigularis), ayam hutan, kijang dll.  Koleksi satwa laut diantaranya adalah :  gurita laut, berbagai spesies ikan laut, terumbu karang, dll.

Category: Ragam Hayati  | Leave a Comment
Biawak Papuma : Si Pemakan Ikan Yang Pemalu Sep 07

Salah satu daya tarik wisata tanjung papuma adalah keberadaan satwa biawak yang dibiarkan hidup liar di alam bebas.  Selain ukurannya yang hampir menyerupai komodo, biawak papuma tergolong jenis yang unik karena besarnya bisa mencapai 2,5 meter.  Padahal biawak biasa, ukuran tubuhnya hanya sekitar 1 – 1,5 meter.

Jika anda berkesempatan berkunjung ke papuma, dan menyempatkan diri mengunjungi warung makan ikan bakar pak Yit yang terletak didekat pelataran parkir papuma, deretan paling utara, diantara kerindangan pepohonan dan semak belukar perdu tedapat lebih kurang 10 ekor biawak, yang sehari-harinya hidup dan berkelliaran bebas di sekitar warung tersebut.

Biawak tersebut keluar dari rerimbunan hutan, apabila ada sisa-sisa ikan dari makanan hidangan warung di sekitarnya yang dilemparkan.  Memang, makanan utama biawak adalah ikan, baik berupa ikan segar maupun ikan sisa makan para pengunjung warung.  Jika ada makanan yang dilemparkan ke mereka, maka serta merta sambil “malu-malu” mereka keluar dan memakan ikan-ikan tersebut.

Biawak adalah sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae). Biawak dalam bahasa lain disebut sebagai bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik (Jawa), berekai (Madura), dan monitor lizard atau goanna (Inggris).

Biawak banyak macamnya. Yang terbesar dan terkenal ialah biawak komodo (Varanus komodoensis), yang panjangnya dapat melebihi 3 m. Biawak ini, karena besarnya, dapat memburu rusa, babi hutan dan anak kerbau. Bahkan ada kasus-kasus di mana biawak komodo menyerang manusia, meskipun jarang. Biawak ini hanya menyebar terbatas di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara, seperti di p. Komodo, p. Padar, p. Rinca dan di ujung barat p. Flores.

Biawak di papuma ini – dan yang kerap ditemui di desa-desa dan perkotaan di Indonesia barat – kebanyakan adalah biawak air dari jenis Varanus salvator. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit, meskipun ada pula yang dapat mencapai 2,5 m.  Dan di papuma, ukurannya termasuk cukup besar, karena mencapai 2,5 meter.

Habitat Biawak.

Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai.

Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cerurut. Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu atau buaya.

Biawak berkembang biak dengan bertelur. Sebelum mengawini betinanya, biawak jantan biasanya berkelahi lebih dulu untuk memperlihatkan penguasaannya. Pertarungan biawak ini unik dan menarik, karena dilakukan sambil ‘berdiri’. Kedua biawak itu lalu saling pukul atau saling tolak sambil berdiri pada kaki belakangnya, sehingga tampak seperti menari bersama.

Telur-telur biawak disimpan di pasir atau lumpur di tepian sungai, bercampur dengan daun-daun busuk dan ranting. Panas dari sinar matahari dan proses pembusukan serasah akan menghangatkan telur, sehingga menetas.

Dengan kemampuan regenerasinya yang rendah, jumlah biawak juga sangat terbatas.  Oleh karenanya, keberadaannya di papuma sangat dilestarikan dan dilindungi dan dibiarkan alami tanpa ada campur tangan pemeliharaan oleh pengelola.  Upaya untuk menangkarkan biawak ini agar jumlahnya bisa lebih banyak, belum pernah dilakukan.

Jika anda penasaran dengan biawak papuma : si pemalu pemakan ikan ini, silakan berkunjung ke papuma dan sempatkan melihatnya di seputaran warung makan di pelataran parkir papuma.  Anda bisa melihat dari dekat – bahkan sangat dekat – sambil memberi makan ikan segar atau sisa ikan bakar yang tidak habis anda santap di warung-warung makan papuma.

Meskipun satwa ini liar dan pemalu, biawak-biawak papuma relatif jinak dan tidak pernah membahayakan pengunjung papuma.

Category: Ragam Hayati  | Leave a Comment
Si “Budeng” : Lutung Jawa, Satwa Langka Tapi Lestari di Papuma Sep 03

Jember, 1 Agustus 2010.  Sungguh tiada diduga, ternyata selama ini Wana Wisata Tanjung Papuma memiliki koleksi satwa langka yang sudah mulai punah keberadaannya di pulau Jawa.  Dialah si Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) atau dalam istilah setempat disebut “budeng”.

Satwa liar endemik yang setiap harinya hidup liar di alam bebas dan bercengkerama di alam papuma yang asri, diperkirakan hanya tersisa ratusan ekor saja di seluruh habitatnya di pulau Jawa.  Dan di Papuma, jumlahnya masih cukup banyak.  Diperkirakan di papuma terdapat sekitar 100 ekor lebih.  Keunikan dan kelangkaan inilah yang sempat menarik minat stasiun televisi swasta Trans7 untuk meliput keberadaan Lutung Jawa di papuma ini untuk acara “JEJAK PETUALANG”.

Lutung Budeng atau dalam nama ilmiahnya Trachypithecus auratus adalah sejenis lutung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Lutung Budeng memiliki rambut tubuh berwarna hitam. Dan seperti jenis lutung lainnya, lutung ini memiliki ekor yang panjang, sekitar 87 cm.

Jantan dan betina biasanya berwarna hitam, namun betina memiliki warna putih kekuningan di sekitar kelaminnya. Lutung muda memiliki rambut tubuh berwarna oranye. Ada dua subspesies dari Lutung Budeng, yang dibedakan dari daerah sebarannya. Subspesies utama, T. a. auratus memiliki ras yang langka, di mana lutung dewasa memiliki warna rambut seperti lutung muda yang berwarna oranye, namun warnanya lebih gelap sedikit dengan ujung kuning.

Endemik Indonesia, Lutung Budeng tersebar dan ditemukan di dalam hutan hujan tropis pulau Jawa, Bali, Kalimantan dan Sumatra.

Lutung Budeng adalah hewan diurnal, yang lebih aktif pada waktu siang hari di atas pepohonan. Makanan pokoknya terdiri dari tumbuh-tumbuhan. Memakan dedaunan, buah-buahan dan bunga. Spesies ini juga memakan larva serangga.

Lutung Budeng hidup berkelompok, yang dalam satu kelompoknya terdiri dari sekitar tujuh ekor lutung, termasuk satu atau dua ekor lutung jantan dewasa. Lutung betina biasanya hanya mempunyai satu anak setiap melahirkan dan saling bantu membesarkan anak-anak lutung. Namun lutung betina juga bersifat sangat agresif terhadap lutung betina dari kelompok lain.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta populasi lutung yang terus menyusut, Lutung Budeng dievaluasikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List.

Di Wana Wisata Tanjung Papuma, satwa yang selalu berada di pepohonan dan tidak pernah turun ke tanah ini, sangat dilindungi dan dijaga dari berbagai macam gangguan, baik dari para pemburu maupun predator lain.  Populasinya setiap tahun selalu bertambah banyak yang ditandai dengan semakin banyak dijumpai anak-anak lutung.  Habitatnya pun dijaga dan dilestarikan.  Selain untuk tujuan konservasi, keberadaan lutung jawa ini juga dijadikan sebagai salah satu daya tarik unggulan wisata di papuma. (dietweha)